Saturday, December 1, 2007

Orang Muda dan Harapan

Seorang pemuda berjalan di depanku dan aku mengikutinya sampai kami tiba di sebuah ladang yang jauh. Disana dia berhenti dan memandang dengan seksama pada awan-awan yang melayang di atas cakrawala laksana sekawanan domba putih. Kemudian dia menatap ke arah pepohonan yang cabang-cabangnya gundul, lalu menengadahkan kepalanya ke langit, seakan-akan memohon kepada surga agar mengembalikan dedaunannya.
Dan aku berkata, "Di manakah kita sekarang, wahai pemuda?"
Dan dia menyahut, "Kita sekarang berada di ladang Kebingungan. Perhatikanlah!
Dan aku berkata, " Marilah kita kembali ke awal, karena tempat terpencil ini menakutkanku, dan pemandangan awan-awan serta pepohonan yang gundul itu menyedihkan hatiku."
Dan dia menyahut, " Bersabarlah. Kebingungan adalah awal dari pengetahuan."
Kemudian aku melihat ke sekelilingku dan terihat sebuah sosok bergerak dengan anggun ke arah kami dan aku bertanya, " Siapakah wanita itu?"
Dan pemuda itu menjawab, "Dia adalah Melpomene, putri Zeus, sang Dewi Tragedi."
"Oh, wahai pemuda yang berbahagia!" aku berseru, "Apa yang diinginkan Tragedi dari aku saat ada engkau di sampingku?"
Dia menjawab, "Dia datang untuk memperlihatkan padamu bumi dan segala penderitaannya; karena siapapun yang belum pernah melihat Penderitaan tidak akan pernah melihat Kesenangan."
Kemudian roh itu meletakkan tangannya di mataku. Ketika ia menarik tangannya kembali, sang pemuda telah menghilang dan aku sendirian, menanggalkan baju duniawiku, dan aku berseru, "Wahai Putri sang Zeus, di manakah sang Pemuda?"
Melpomene tidak menjawabku, tetapi menaruhku di atas sayapnya, dan membawaku ke puncak gunung tinggi. Dibawahku aku melihat bumi dan semua yang ada di dalamnya terbentang seperti halaman-halaman buku, yang menandai rahasia-rahasia alam semesta. Aku berdiri dengan perasaan kagum di samping seorang gadis, merenungkan misteri Manusia, dan berusaha menafsirkan simbol-simbol Kehidupan. Dan aku melihat hal-hal yang menyedihkan:

...

Ketika aku memperhatikan semua itu, aku menangis dalam penderitaan, "Wahai putri Zeus, inikah Dunia itu? Apakah benar Manusia?"
Dalam kelembutan suara dan kesedihan yang dalam dia menjawab, "Apa yang engkau lihat adalah jalan Jiwa yang disusun dari batu-batu tajam dan dialasi duri-duri. Itu hanyalah bayangan manusia, sesungguhnya ini adalah Malam. Tapi tunggu!! Pagi akan segera tiba!"
Kemudian dia meletakkan tangannya di mataku dan ketika dia menarik tangannya kembali, perhatikan! Di sana ada pemuda yang berjalan perlahan di sampingku, berdiri di depan kami memimpin jalan, dan menggerakkkan Harapan
.

dikutip/disalin dari "Semua Karena Cinta" karya Kahlil Gibran